Perbincangan untuk menjadikan Negara ini maju dari jaman kemerdekaan sampai saat ini tidak ada habisnya, mulai dari hipotesa, seminar, pendapat sampai yang berdasarkan sejarah maupun dalil-dalil yang dianggap menjadi solusi yang sebenarnya ternyata hanya utopis belaka, khayalan. Tidak ada realisasi yang nyata dari semua elemen bangsa.

Ketika tidak ada realisasi mereka beralasan tidak ada kesatuan gerak diantara kita semua untuk mewujudkan Negara yang maju sehingga hal ini dijadikan sebagai alibi bahwasanya pendapatnya benar hanya saja warga Negara Indonesia tidak siap untuk melakukan sebuah perubahan bagi bangsanya. Ya, inilah mental diri kita yang selalu mencari ‘kambing hitam’ untuk menutupi suatu kesalahan yang kita buat, sebuah mental bobrok yang tidak diperlukan di Negara ini. Apalagi dengan menyalahkan Negara-negara lain yang Amerikalah, Israel lah, yahudi lah dan lah-lah lainnya. Apakah anda berharap Negara ini menjadi maju setelah menghancurkan Amerika dan antek-anteknya gitu. Sebuah mental primitive yang tidak siap untuk menjadi bagian dari sebuah peradaban dan kemajuan suatu bangsa.



Sampai kemudian banyak orang-orang mencoba berkiblat kepada Negara – Negara maju untuk kemudian menjadikan hasil kemajuan yang dicapai oleh Negara tersebut untuk diterapkan di Negara kita, dan kemudian apa yang terjadi? Yang terjadi adalah bangsa ini semakin tidak jelas arah kemajuan yang dicapai dan semakin kehilangan jati diri. Mereka benar-benar tidak belajar tetapi berkhayal tentang sebuah kemajuan bagi negaranya. Mereka tidak akan pernah mengerti akan sebuah porses kemajuan untuk bangsa ini.

Bagi kami jati diri sangat diperlukan untuk menggapai sebuah kemajuan, kemajuan apapun itu harus dimulai dari diri sendiri bukan berasal dari jati diri yang meniru orang lain. Dalam sebuah riwayat disebutkan pahamilah dirimu sendiri untuk memahami Allah, untuk mengenal Allah sebagai Tuhan Alam Semesta harus berangkat dari diri sendiri. Kelak ketika manusia mengerti akan hakekat dirinya sendiri maka tabir rahasia Allah akan dibuka oleh Allah sendiri. Sehingga mempelajari hal lain dengan tujuan untuk mengerti hakekat Allah tentu akan sangat sulit dan mustahil.

Di dalam dunia wirausaha maupun dunia kerja ada suatu metode yang sangat terkenal yaitu metode analisis SWOT (Strength Weakness Opportunity Treath) suatu metode untuk mengetahui kemampuan maupun kelemahan diri kita sendiri. Berangkat dari analisa diri sendiri akan didapatkan perhitungan yang matang dan akurat untuk mendapatkan kemenangan maupun menghindari sebuah kekalahan dan kelemahan. Metode analisis SWOT telah banyak dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan besar maupun individu-individu yang telah mencapai kemajuan maupun kesuksesan yang luar biasa di dalam bidangnya masing-masing. Dari metode analisis SWOT satu hal pokok yang dapat dipelajari adalah kemajuan, kesuksesan, keberhasilan (apapun itu) selalu berangkat dari memahami diri sendiri, hal ini kami anggap sebuah konsep yang diambil dari ‘pahamilah dirimu sendiri untuk memahami Tuhanmu’.

Kenapa harus berangkat dari diri sendiri? Adalah sebuah pertanyaan dasar yang harus kita jawab dengan rasa ketauhidan, rasa nurani yang paling dalam sebagai insan kamil dengan tujuan untuk memperoleh jawaban yang mampu untuk dijadikan pedoman dalam hidup. Berangkat dari sebuah dalil bahwasanya tidak ada kesempurnaan di dunia ini (kesempurnaan hanya milik Allah) dimana Allah telah menjadikan alam semesta agar berjalan sesuai dengan tugasnya yang telah ditetapkan untuknya, masing-masing tidak ada yang lebih unggul dari lainnya. Mereka hanya melaksanakan tugas sebagai hamba Allah sesuai dengan fungsi yang telah diberikan, tidak lebih dari itu. Apakah itu manusia, hewan , tumbuhan, batu, air, bulan, matahari, makhluk ghaib dan semua makhluk lainnya.

Dengan demikian Allah telah menganugerahkan potensi maupun kemampuan bagi tiap makhluknya berbeda-beda, tidak ada yang sama persis, hal ini bertujuan agar terjadi harmonisasi diantara semua ciptaan yang ada. Bayangkan seandainya semua makhluk hidup diberikan kemampuan dan potensi yang sama tentu alam semesta akan semrawut dan langsung terjadi kehancuran yang maha dahsyat. Bayangkan seandainya di negeri ini semuanya menjadi presiden, atau semuanya menjadi tukang becak, atau semuanya menjadi ulama, atau semuanya rame-rame menjadi anggota DPR? …………………………………

Allah Maha Adil dengan segala ciptaanNya, Allah tidak akan dholim kepada makhluknya sedikit pun, hanya saja makhluknya yang tidak mengerti akan Maha Keadilan Allah. Pun demikian jika Allah memberikan potensi yang berbeda bagi tiap-tiap makhluknya dengan tujuan agar mereka bisa saling berharmonisasi atau saling melengkapi kekurangan dan kelebihan dalam kehidupan ini tentu Allah telah memberikan suatu potensi bagi semua bangsa maupun Negara-negara di dunia ini. Sejenak kita belajar dari Negara Jepang. Setelah kalah dalam perang dunia ke dua dimana Negara dalam kehancuran total dan menyisakan berbagai masalah kehidupan, namun Negara tersebut dapat bangkit dan dapat disejajarkan dengan Negara-negara maju lainnya dalan kurun waktu tidak kurang dari tiga dekade, sebuah pencapaian yang luar biasa menurut saya. Dan lihatlah kemajuan negeri Jepang yang dicapai saat ini tapi identitas yang mencirikan sebuah Negara matahari terbit tidak hilang sama sekali, ya mereka telah belajar untuk tidak meniru maupun mengekor Negara lain, tapi bangsa itu melihat ke dalam kemudian bergerak keluar dengan melihat perubahan zaman yang ada.

Kita mundur kebelakang, bagi anda yang suka dengan sejarah kebudayaan islam. Kekhilafaan islam begitu maju, dan kuatnya sampai-sampai orang islam saat ini begitu termanja dalam euphoria sejarah masa lalu. Gaung-gaung untuk menerapkan sistem islam dalam segala sendi kehidupan begitu kuatnya dengan harapan kejayaan masa kemarin akan terulang di masa besok. Orang-orang seperti ini tidak pernah belajar untuk memahami kehidupan dengan benar, mereka hanya mempelajari apa yang tampak diluar (kulitnya). Kalau kita pahami dengan benar bahwasanya kemajuan orang islam dicapai memang dicapai dengan mendayagunakan segala potensi yang diberikan oleh Allah sesuai dengan tempat maupun daerah yang ditempati yang disesuaikan dengan perubahan zaman saat itu.

Konsep untuk menjadikan ideology islam diterapkan di Negara ini kami pikir adalah konsep yang salah kaprah, hal ini akan menyebabkan kita tidak akan mengalami kemajuan sedikit pun. Maksud kami ideology islam yang diterapkan adalah benar-benar mengaplikasikan seluruh sendi kehidupan sesuai dengan kehidupan islam. Apakah anda ingin mengatakan arabisasi? Tunggu dulu, bukan arabisasi tapi islamisasi maksud saya. Kalau begitu anda harus tahu bedanya islamisasi dengan arabisasi. Jangan kemudian Negara ini mau dibuat arabisasi, semua model kehidupan harus mencontohkan kehidupan orang-orang arab atau dengan dalil mencontoh rosulullah. Ok lah saya sangat sepakat kalau kehidupan kita mencontoh rosulullah tapi ingat benang merahnya adalah mana yang menjadi inti ajaran mana yang menjadi sebuah kebudayaan dan kebiasaan.

Contoh kecil kebudayaan arab yang sangat berbeda dengan kebudayaan kita adalah dalam tata karma. Di Negara arab seorang suami memanggil istrinya dengan namanya sendiri adalah bukanlah hal yang tabu di Negara tersebut, maksud saya jika si suami namanya hamdan sementara si istri namanya zaenab, maka si suami memanggil istrinya sehari-hari dengan sebutan wahai zaenab tentu hal itu telah terjadi kepantasan jika diterapkan di Negara arab dan sekitarnya. Tetapi jika kebiasaan tersbut diterapkan di Negara ini akan menyebabkan sebuah ketabuan. Si suami dianggap tidak dapat menghormati pasangannya sebagai wanita yang terhormat, lain lagi jika panggilannya diantara mereka berdua mas dan adik, wah akan terjadi sebuah keromantisan dalam rumah tangganya donk. Atau contoh kecil lainnya sebuah tata karma yang perlu dilestarikan adalah jika kita berjalan kemudian dipinggir jalan ada orang-orang duduk kita akan mengatakan nunsewu atau permisi untuk sekedar menghormati bagi mereka yang sedang duduk karena kita sedang berdiri. Dan masih banyak sekali contoh-contoh lainnya.

Tapi yang saya lakukan kan sesuai dengan perilaku rasulullah. Ya betul! makanya saudara jangan mempelajari suatu ajaran itu dari kulitnya saja tapi pelajari juga inti ajarannya agar anda mengerti kehidupan dengan sebenarnya. Kalau anda menerapkan kebiasaan orang-orang arab di Negara ini tentu anda akan terasing di negeri sendiri. Pahamilah inti ajarannya kemudian aplikasikan dengan keluhuran budaya setempat. Maka jadilah islamisasi bukan arabisasi, ketika hal itu yang anda lakukan anda akan maju sebagai manusia yang berkarakter sesuai dengan titah yang telah diberikan oleh Tuhan.

Negeri ini pernah mengalami kemajuan yang luar biasa, sejarah telah banyak mencatatnya, tanah maupun bumi telah bicara apa yang telah dicapai oleh bangsa ini pada masa lampau. Berbagai kerajaan telah mengukir prestasinya di zamannya masing-masing tentu tidak kalah dengan sejarah keislaman. Bahkan menurut penelitian seorang professor dari Brasil pada tahun 2008 bahwasanya negeri atlantis yang pernah ada dan hilang bak ditelan bumi terletak di tanah jawa, tentu bukan sembarang penelitian tapi penelitian yang telah dilakukan oleh seorang professor. Atlantis bukanlah Negari biasa tapi sebuah Negari yang luar biasa sampai-sampai plato menyebut negeri tersebut sebagai negeri langit, negeri khayangan karena begitu majunya peradaban yang telah dicapainya.

Bukanlah agama yang membuat maju suatu Negara tetapi identitas diri sendiri yang dapat membuat maju suatu Negara. Kalau pada zaman sekarang ini istilah populernya disebut KARAKTER. Ya namanya karakter. Saat ini ramai gembar-gembornya adalah pendidikan berkarakter, dengan tujuan menjadikan Negara ini menjadi Negara berkarakter dan muaranya adalah kemajuan bagi bangsa. Saya sangat sepakat sekali, kita harus mempunyai karakter yang khas sebagai Negara Indonesia. Bukan berkarakter dengan mencontoh karakter Negara lain. Ingat kerajaan sriwijaya sangat maju pada jamannya karena mereka tidak lupa dengan karakter negaranya sendiri, meskipun sebagai kerajaan hindu tapi mereka tidak menerapkan kehidupan agama hindu seperti di Negara asalnya yaitu India, tapi mereka membuat asimilasi untuk diterapkan di Negara sendiri jadilah mereka menjadi Negara yang berkarakter sehingga mencapai kemajuan yang luar biasa, buktinya keberadaan candi prambanan dan candi lainnya di Negara ini. Candi sebagai tempat peribadatan di Negara Indonesia kalau kita teliti akan sangat berbeda sekali dengan tempat peribadatan agama hindu di Negara india, di Negara tersebut tidak ada bangunan candi seperti yang terdapat di tanah jawa. Prambanan adalah hasil dari asimilasi produk orang-orang jaman dahulu untuk menjadikan negeri ini tetap berkarakter. Pun demikian candi-candi lainnya.

Puncaknya adalah terjadi agama budha-syiwa yang terjadi di era majapahit, sejarah mencatat majapahit adalah sebuah kerajaan yang luar biasa hebat, dan sangat besar daerahnya. Satu lagi terjadi proses asimilasi antara agama yang disesuaikan dengan karakter Negara sendiri yaitu budha-syiwa. Tidak ada di dunia manapun sebuah ajaran budha yang dicampur dengan hindu yaitu syiwa. Bukan hanya dalam agama saja tetapi dalam segala sendi kehidupan yang telah dicapai tanpa menghilangkan karakter yang dimiliki, hal ini wajar sehingga banyak manuskrip-manuskrip kuno dari Negara-negara lain yang pernah berafiliasi maupun bersahabat dengan Negara majapahit sebut saja negeri tiongkok maupun negeri-negeri lainnya.

Apa yang menjadi kesimpulan hari ini adalah pentingnya sebuah ‘karakter’ untuk menjadikan Negara ini menjadi Negara yang maju, Negara yang jaya dan disegani oleh Negara-negara lain. Kita telah mempunyai karakter yang khas yang telah diberikan oleh Allah kepada Negara ini, ingat Allah telah memberikan semua potensi berikut peralatannya untuk menjadikan Negara Indonesia menjadi Negara yang maju. Untuk memahami bagaimana karakter yang kita miliki tentu kita harus belajar dari diri sendiri, memahami diri sendiri dan sejatinya diri kita. Untuk belajar memahami diri sendiri tentu kita tidak akan berangkat dari karakter Negara lain atau bahkan mencontoh karakter Negara lain kemudian kita terapkan di Negara Indonesia ini. Menurut kami jika hal tersebut dilakukan tentu akan mustahil untuk mencapai tujuan sebuah Negara maju, karena perbuatan tersebut telah melanggar sunatullah, ya betul sunatullah. Segala potensi yang telah diberikan oleh Tuhan bagi Negara ini tidak dimaksimalkan dengan benar sehingga akan terjadi berbagai kekacauan di segala sendi kehidupan. Jadilah bangsa ini menjadi bangsa yang kehilangan jati diri, kufur terhadap pemberian Allah. Hal ini sama saja ketika negeri ini telah diberikan perangkat yang lengkap untuk menjadi Negara maju eeee malah memakai perangkat Negara lain, apa itu bukan namanya kufur. Ingat dalam Al Qur’an disebutkan yang artinya “bersyukurlah diantara kamu niscaya Kami akan menambahkan (kenikmatan) kepadamu, jika kamu kufur (ingkar) sesungguhnya adzab Kami sangat pedih (dahsyat)”.

Apakah mungkin negeri ini telah di adzab oleh Tuhan karena kurangnya rasa syukur bagi rakyatnya terhadap pemberian Tuhan yaitu jati diri bangsa? Mudah-mudahan tidak demikian. Berbagai masalah sendi kehidupan muncul, kompleksitas masalah telah mencapai puncaknya tapi banyak orang tidak mengerti bagaimana mencari solusi yang benar karena mereka mencari solusi dari luar padahal solusi telah ada di dalam diri sendiri. Kita tinggal menggalinya kembali dan kemudian memunculkan kembali di permukaan untuk dijadikan sebagai blue print, prototype suatu bangsa dengan harapan negeri ini maju dan jaya yang berangkat dari pemahaman diri sendiri dan memunculkan karakter dari dalam sendiri. Leluhur nusantara telah banyak meninggalkan ajaran-ajaran luhur yang mencerminkan karakter bangsa ini, yang menjadikan negeri ini pernah jaya pada jamannya, kita tinggal mempelajari kembali blue print yang telah ditinggalkan oleh leluhur nusantara ini kemudian kita terapkan dan asimilasikan dengan kehidupan di zaman sekarang. Demikianlah yang namanya bersyukur yaitu memaksimalkan pemberian Allah dengan benar yaitu menjadi insan kamil yang beramanah.

Tidak peduli apa agama anda, apakah islam, Kristen, hindu, budha, ataupun konghucu karena bagi kami agama kecil pengaruhnya bagi kesuksesan maupun kemajuan suatu negara. Kuncinya adalah berangkat dari diri sendiri untuk mengenal diri sendiri, analisis SWOT. Hal ini sesuai dengan sunatullah siapa saja yang berhasil mengenali dirinya kemudian memaksimalkan potensinya maka dialah yang mendapat kesuksesan. Bukan suatu agama yang dapat menjadikan manusia menuju sebuah kesuksesan tapi kesuksesan muncul dari berbagai manusia dengan latar belakang agama yang berbeda-beda. Tapi masalahnya negeri ini mayoritas islam! hallo saudara, mau islam ataupun agama lain silakan saja tapi satu yang harus dipegang dan diingat adalah jangan melupakan jati diri bangsa yang telah diberikan Allah kepada kita, karena jati diri itulah yang harus kita pegang dan kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari dan jati diri itulah sebagai amanah Allah yang telah diberikan kepada bangsa ini.

Masihkan anda bermimpi menjadi Negara besar dengan mengekor Negara lain?, kalau itu yang anda lakukan silahkan anda terus bermimpi. Tapi siapkah anda menjadi Negara yang maju dengan berangkat dari dalam sendiri? Kalau itu menjadi pilihan anda bersiap-siaplah menjadi bagian dari suatu Negara yang besar dan maju. Salam budaya. Salam asih asah asuh.

JAYALAH NEGERIKU, JAYALAH NUSANTARAKU JAYALAH INDONESIAKU.

Affiliate Program ”Get Money from your Website” Affiliate Program ”Get Money from your Website”

Jangan Lupa Klik Suka Or Like

free site statistics
MOHON KESADARANNYA UNTUK MENGEKLIK IKLAN YANG ADA DIBAWAH POSTINGAN. TERIMA KASIH...!!!

Entri Populer

Ping your blog, website, or RSS feed for Free